Karena kita berbeda.. setiap orang memiliki pedoman hidup yang berbeda demikian juga dengan diriku, aku tumbuh dan besar di sebuah desa jauh dari hiruk pikuk kota tak ada macet di desaku bahkan sewaktu aku masih duduk di bangku SD ingat betul kala itu hanya ada satu atau dua mobil pick up yang lewat seminggu sekali di depan rumahku untuk mengangkut kayu yang di tebang dari hutan di atas desaku tak ada kata mewah bahkan hingga saat ini tak satupun orang di RT ku yang memiliki mobil mungkin begitu terpelosoknya daerah kami hahaaa dan mungkin juga baru 20 tahun yang akan datang ada salah satu warga kami yang memiliki mobil mentereng seperti milik orang-orang di kota,, tak apa kawan, tak perlu, aku juga tak menginginkan hal seperti itu... seperti sekarang saja sudah cukup. Kawan tahukah telah 18 tahun lebih 9 bulan aku lahir kedunia ini.. aku tak tau apakah dengan aku lahir kedunia ini adakah orang yang merasa senang atau justru mereka sedih dengan lahirnya aku kedunia ini he atau bahkan mereka tidak peduli dengan keberadaanku.. telah 18 dan 9 bulan pula aku menghirup oksigen di dunia ini dengan cuma-cuma. Malam ini aku hanya ingin bercerita dan menulis saja di tengah kesibukan menjadi mahasiswa aku tidak ingin hanya mengabdikan diriku untuk belajar saja bukankah hidup itu harus seimbang kawan... aku menyadari nilai yang bagus memang penting namun ada hal yang kebih penting yaitu bagaimana cara kita agar dapat mendapat nilai yang bagus tersebut.. sudah aku tak ingin menceritakan betapa senang dan sedihnya menjadi mahasiswa semester II kali ini aku ingin bercerita tentang masa kecilku .. aku juga tidak tau apakah akan ada orang yang membaca tulisan ku ini dan mungkin memang tidak pernah akan ada orang yang membaca tulisan ini selain diriku sendiri kecuali aku memaksa mereka untuk membuka blog ku ini. Dimulai darimana ya?. Jujur aku tak pandai menulis atau bercerita aku juga tak pandai melucu bahkan daripada kelebihan mungkin lebih banyak kekurangan yang menyelimuti diriku. Sudah akupun menerimanya dengan ikhlas hehe. Anak desa aku rindu menjadi anak desa kembali, hidup di kota aku baru merasaknnya selama 7 bulan namun itu sudah membuatku merindukan udara desaku,... walaupun sepi walaupun terpelosok aku tetap mencintai desaku dan linkunganya masa kecilku jauh dari kata mewah main di kebun depan rumah saja sudah membuat masa kecilku bahagia, komputer saja aku baru memegangnya bukan memilikinya lho ya.. itu di kelas 4 SD bandingkan dengan anak zaman sekarang, balita saja sudah memegang smartphone zamanku dulu boro-boro smartphone hp nokia jadul yang sekarang sudah tidak di produksi dan paling khas dengan permainan ular yang ada di dalamnya sudah membuat hati senang bukan main, sungguh beruntungnya anak zaman sekarang... oya kawan, aku pernah dimarahi habis-habisan oleh pengasuhku saat aku pergi dari rumah tanpa pamit dipaksa mandi di rumah orang lain kala itu aku main masuk ke dalam hutan hingga bajuku berubah warna menjadi coklat secara keseluruhan aku takut betul dengan pengasuhku dulu itu ahah tapi ya memang aku si yang salah.. setengah hari kami bermain di hutan hanya untuk mencari dalam bahasa kami yaitu nuturi cengkeh neng gunung wqwq... aku merindukannya sungguh.... kala itu kedua orang tuaku masih berdinas jadi bisa dikatakan aku tumbuh dan besar di tangan orang yang berbeda-beda itulah aku... teman sepermainaku teman yang tumbuh dan besar bersamaku kini entah dimana mereka aku rindu bermain dengan mereka permainan sederhana semacam gobak sodor, lompat tali bermain kelereng bermain peran masak-masakan, bermain peran dokter-dokteran dan lainya kini aku merindukannya lagi karena sejenak aku sangat bosan dengan dunia ini dunia di masa dewasaku ini terasa agak sedikit keras di banding dunia masa kecil dan remaja ku .. ingin aku kembali ke jaman SD kala itu belum sempurna mengerti hak dan kewajiban sebagai anak.. bermainlah yang menjadi prioritas kami kala itu sehabis pulang sekolah belum sempat makan sudah meluncur ke irigasi untuk bermain air.. tak ada kata jijik kala itu yang kami tau hanya bersenang-senang. Menceritakan detail demi detail mungkin tak akan ada habisnya karena setiap hal yang kita lakukan pasti membawa cerita. jujur aku senang bercerita dan mendengarkan cerita orang lain. sudah ini sudah malam... selamat malam....